Masa Radikal Zaman
Pergerakan Nasional 1900-1942
Sejak menginjakkan
kakinya di bumi Indonesia pada tahun 1956, penjajah Belanda kurang
memperhatikan kesejahteraan golongan pribumi (orang-orang Indonesia). Mereka
terus mengeruk kekayaan alam dan menindas rakyat Indonesia, tanpa mau
memperhatikan nasib rakyat itu sendiri. Pada akhir abad ke-19,
C.Th.van Deventer mengkritik keadaan itu melalui salah satu karangannya yang
berjudul Utang Budi. C.Th van Deventer antara lain menyetakan
bahwa kemakmuran Belanda diperoleh berkat kerja dan jasa orang Indonesia. Oleh
sebab itu, bangsa Belanda sebagai bangsa yang maju dan bermoral harus membayar
utang budi kepada bangsa Indonesia. Caranya adalah dengan
menjalankan Politik Balas Budi atau dikenal dengan
sebutanPolitik Etis.
Politik Etis yang
diuslkan oleh C.Th van Deventer berisi tentang perbaikan-perbaikan dalam
bidang irigasi (pengairan), transmigrasi (perpindahan),
dan edukasi (pendidikan). Akan tetapi pelaksanaannya tidak terlepas
dari kepentingan pemerintah Hindia Belanda. Politik Etis sebenarnya merupakan
bentuk penjajahan kebudayaan yang halus sekali. Program edukasi itu sendiri
sebenarnya merupakan pelaksanaan dari Politik Asosiasi yang berarti
penggantian kebudayaan asli tanah jajahan dengan kebudayaan penjajah. Walaupun
menyimpang dari tujuan semula, beberapa pelaksanaan dari Politik Etis telah
membawa pengaruh yang baik. Misalnya, dengan didirikannya sekolah-sekolah untuk
golongan pribumi.
Tujuannya adalah
untuk memperoleh tenaga baru pegawai rendah yang bersedia digaji lebih murah
dari pada tenaga bangsa-bangsa Belanda. Banyaknya penduduk pribumi yang
bersekolah telah menghasilkan kaum cerdik pandai dikalangan
penduduk pribumi. Kaum cerdik pandai inilah yang mempelopori kesadaran
kebangsaan, yaitu suatu kesadaran tentang perlunya persatuan dan kesatuan
bangsa. Peristiwa timbulnya kesadaran berbangsa
disebut KebangkitanNasional Indonesia. Kaum cerdik
pandai ini pula yang mempelopori dan memimpin pergerakan nasional
pada awal abad ke-20.
Partai Komunis
Indonesia (PKI) secara resmi berdiri pada tanggal 23 Mei 1920. Berdirinya PKI
tidak terlepas dari ajaran Marxis yang dibawa oleh Sneevliet. Ia bersama
teman-temannya seperti Brandsteder, H.W Dekker, dan P. Bergsma, mendirikan
Indische Social Democratische Vereeniging (ISDV) di Semarang pada
tanggal 4 Mei 1914. Tokoh-tokoh Indonesia yang bergabung dalam ISDV antara lain
Darsono, Semaun, Alimin, dan lain-lain. PKI terus berupaya mendapatkan pengaruh
dalam masyarakat. Salah satu upaya yang ditempuhnya adalah melakukan infiltrasi
dalam tubuh Sarekat Islam. Infiltrasi dapat dengan mudah dilakukan karena ada
beberapa faktor berikut:
-Adanya kemelut
dalam tubuh SI, di mana pemerintah Belanda lebih memberi pengakuan kepada
cabang Sarekat Islam lokal.
-Adanya disiplin
partai dalam SI, di mana anggota SI yang merangkap anggota ISDV harus keluar
dari SI. Akibatnya SI terpecah menjadi SI Merah dan SI Putih.
Setelah berhasil
menyusup dalam tubuh SI, jumlah anggota PKI semakin besar. PKI berkembang pesat.
Berikut ini ada beberapa faktor yang menyebabkan PKI berkembang pesat :
-Propagandanya yang
sangat menarik.
-Memiliki pemimpin
yang berjiwa kerakyatan.
-Pandai merebut
massa rakyat yang tergabung dalam partai lain.
-Sikapnya yang
tegas terhadap pemerintah kolonial dan kapitalis.
-Di kalangan rakyat
terdapat harapan bahwa PKI bisa menggantikan Ratu Adil.
Organisasi PKI
makin kuat ketika pada bulan Februari 1923 Darsono kembali dari
Moskow. Ditambah dengan tokoh-tokoh Alimin dan Musso, maka peranan politik PKI
semakin luas. Pada tanggal 13 November 1926, Partai Komunis Indonesia
mengadakan pemberontakan di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Pemberontakan ini sangat sia-sia karena massa sama sekali tidak siap di samping
organisasinya masih kacau. PKI telah mengorbankan ribuan orang yang termakan
hasutan untuk ikut serta dalam pemberontakan. Dampak buruk lainnya yang menimpa
para pejuang pergerakan di tanah air adalah berupa pengekangan dan penindasan
yang luar biasa dari pemerintah Belanda sehingga sama sekali tidak punya ruang
gerak. Walaupun PKI dinyatakan sebagai partai terlarang tetapi secara ilegal
mereka masih melakukan kegiatan politiknya. Semaun, Darsono, dan Alimin
meneruskan propaganda untuk tetap memperjuangkan aksi revolusioner di
Indonesia.
Partai Nasional
Indonesia (PNI)
Berdirinya
partai-partai dalam pergerakan nasional banyak berawal dari studie club. Salah
satunya adalah Partai Nasional Indonesia (PNI). Partai Nasional Indonesia (PNI)
yang lahir di Bandung pada tanggal 4 Juli 1927 tidak terlepas dari keberadaan
Algemeene Studie Club. Lahirnya PNI juga dilatarbelakangi oleh situasi sosio
politik yang kompleks. Pemberontakan PKI pada tahun 1926 membangkitkan semangat
untuk menyusun kekuatan baru dalam menghadapi pemerintah kolonial Belanda.
Rapat pendirian partai ini dihadiri Ir. Soekarno, Dr. Cipto Mangunkusumo,
Soedjadi, Mr. Iskaq Tjokrodisuryo, Mr. Budiarto, dan Mr. Soenarjo. Pada awal
berdirinya, PNI berkembang sangat pesat karena didorong oleh faktor-faktor
berikut:
-Pergerakan yang
ada lemah sehingga kurang bisa menggerakkan massa.
-PKI sebagai partai
massa telah dilarang.
-Propagandanya
menarik dan mempunyai orator ulung yang bernama Ir. Soekarno (Bung Karno).
Untuk mengobarkan
semangat perjuangan nasional, Bung Karno mengeluarkan Trilogi sebagai pegangan
perjuangan PNI. Trilogi tersebut mencakup kesadaran nasional, kemauan nasional,
dan perbuatan nasional. Tujuan PNI adalah mencapai Indonesia merdeka. Untuk
mencapai tujuan tersebut, PNI menggunakan tiga asas yaitu self help (berjuang
dengan usaha sendiri) dan nonmendiancy, sikapnya terhadap pemerintah juga
antipati dan nonkooperasi. Dasar perjuangannya adalah marhaenisme. Kongres
Partai Nasional Indonesia yang pertama diadakan di Surabaya, tanggal 27 – 30
Mei 1928.
Kongres ini
menetapkan beberapa hal berikut:
1.Susunan program
yang meliputi:
-Bidang politik
untuk mencapai Indonesia merdeka,
-Bidang ekonomi dan
sosial untuk memajukan pelajaran nasional.
2.Menetapkan garis
perjuangan yang dianut adalah nonkooperasi.
3.Menetapkan garis
politik memperbaiki keadaan politik, ekonomi dan sosial dengan kekuatan
sendiri, antara lain dengan mendirikan sekolah-sekolah, poliklinik-poliklinik,
bank nasional, perkumpulan koperasi, dan sebagainya.
Peranan PNI dalam
pergerakan nasional Indonesia sangat besar. Menyadari perlunya pernyataan
segala potensi rakyat, PNI memelopori berdirinya Permufakatan
Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI). PPPKI diikuti
oleh PSII (Partai Sarekat Islam Indonesia), Budi Utomo, Pasundan, Sumatranen
Bond, Kaum Betawi, Indonesische Studi Club, dan Algemeene Studie Club. Berikut
ini ada dua jenis tindakan yang dilaksanakan untuk memperkokoh diri dan
berpengaruh di masyarakat. Dengan mengadakan usaha-usaha dari dan untuk
lingkungan sendiri seperti mengadakan kursus-kursus, mendirikan sekolah, bank
dan sebagainya. Dengan memperkuat opini publik terhadap tujuan PNI antara lain
melalui rapat-rapat umum dan penerbitan surat kabar Banteng Priangan di
Bandung, dan Persatuan Indonesia di Jakarta.
Kegiatan PNI ini
cepat menarik massa dan hal ini sangat mencemaskan pemerintah kolonial Belanda.
Pengawasan terhadap kegiatan politik dilakukan semakin ketat bahkan dengan
tindakantindakan penggeledahan dan penangkapan. Dengan berkembangnya desas
desus bahwa PNI akan mengadakan pemberontakan, maka empat tokoh PNI yaitu Ir.
Soekarno, R. Gatot Mangkuprojo, Markun Sumodiredjo, dan Supriadinata ditangkap
dan dijatuhi hukuman oleh pengadilan Bandung. Dalam proses peradilan itu, Ir.
Soekarno dengan kepiawaiannya melakukan pembelaan yang diberi judul “Indonesia
Menggugat”.
Penangkapan
terhadap para tokoh pemimpin PNI merupakan pukulan berat dan menggoyahkan
keberlangsungan partai. Dalam suatu kongres luar biasa yang diadakan di Jakarta
pada tanggal 25 April 1931, diambil keputusan untuk membubarkan PNI. Pembubaran
ini menimbulkan pro dan kontra. Mr. Sartono kemudian mendirikan Partindo.
Mereka yang tidak setuju dengan pembubaran masuk dalam Pendidikan Nasional
Indonesia (PNI Baru) yang didirikan oleh Drs. Mohammad Hatta dan Sutan Syahrir.
Baik Partindo maupun PNI Baru, masih memakai asas PNI yang lama yaitu self help
dan nonkooperasi. Namun di antara keduanya terdapat perbedaan dalam hal
strategi perjuangan. PNI Baru lebih mengutaman pendidikan politik dan sosial,
sedangkan Partindo mengutamakan aksi massa sebagai senjata yang tepat untuk
mencapai kemerdekaan.
Permufakatan
Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI)
PPPKI dibentuk di
Bandung pada tanggal 17 - 18 Desember 1927. Beranggotakan organisasi-organisasi
seperti Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII), Budi Utomo (BU), PNI, Pasundan,
Sumatranen Bond, Kaum Betawi, dan Kaum Studi Indonesia. Tujuan dibentuknya
PPPKI yaitu:
-Menghindari segala
perselisihan di antara anggota-anggotanya;
-Menyatukan
organisasi, arah, serta cara beraksi dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia;
dan
-Mengembangkan
persatuan kebangsaan Indonesia.
Pembentukan
organisasi PPPKI sebagai ide persatuan sejak awal mengandung benih-benih
kelemahan dan keretakan. Berikut ini ada beberapa faktor yang menyebabkan
keretakan tersebut:
-Masing-masing
anggota lebih mementingkan loyalitas pada masing-masing kelompoknya.
-Kurangnya kontrol
pusat terhadap aktivitas lokal.
-Perbedaan gaya
perjuangan di antara organisasi-organisasi anggota PPKI tersebut.
0 komentar:
Posting Komentar